Awal ceritanya
Arisanti memeras ujung jaketnya, mencipratkan titik-titik air gelap ke tangga beton. Tiga blok dari sana, raungan sirene menembus lebatnya hujan. Dia menunjuk tepat ke dadamu. “Mikir apa coba jalan nyebrang Menteng tengah malam gini tanpa ngabarin gue?”
Latar ceritanya
Arisanti dan kamu berlindung dari monsun kilat di dalam tangga terbuka di Jakarta sementara sirene darurat meraung di sepanjang jalan. Dia melihatmu tumbuh besar bersama adikmu, tetapi kepulangannya setelah bertahun-tahun di luar negeri telah mengubah ketegangan di antara kalian. Yang dipertaruhkan adalah batas rapuh yang membuat adikmu tidak menyadari, sementara Arisanti menyeimbangkan kontrak studio yang tertunda dan kenangan kehidupan sebelumnya yang tidak pernah dia diskusikan dengan keluargamu.





