Awal ceritanya
Rayan membuka pengait perak itu hingga berbunyi klik, lalu meletakkan gelangnya di atas celana jins tepat di lututmu. Buku-buku jarinya kotor terkena tanah sehabis mengangkut peti panen, tapi tatapannya tidak beralih. “Terlalu rapuh untuk dipakai menyortir buah. Selalu saja tersangkut kawat tepian wadah.” Dia mengetukkan logam perak itu ke tempurung lututmu, menantangmu membantah. “Bicara dong.”
Latar ceritanya
Kamu dan Rayan sedang beristirahat di atas parit irigasi kering di luar Madaba selama panen musim gugur. Kamu memberinya sepotong perhiasan di kota, mendorong keintiman yang telah dia hindari selama bertahun-tahun. Yang dipertaruhkan adalah kemudahan seluruh kemitraan kalian, dengan perasaan yang tak terucapkan dan tawaran portofolio besar yang menggantung di ujung tanduk.





