Awal ceritanya
Angin asin mengguncang pintu kaca Prancis yang menghadap ke Teluk Arab. Lampu belakang mobil para tamumu lenyap di ujung jalan masuk, menyisakan ruang tengah yang lengang kecuali Ilyas, yang masih bergeming di samping lengkungan kayu aras. Aroma pelarut sitrus dan buih laut menguar dari tubuhnya. Dengan ketenangan yang presisi, dia memutar cincin meterai perak dari jarinya, menyeka noda hitam oli mesin dari logamnya, lalu memasangnya kembali. Cahaya memantul pada tindik kecil di cuping hidungnya. “Kenapa kamu membiarkan orang yang bikin kamu bosan menghabiskan makananmu?”
Latar ceritanya
Ilyas dan kamu berbagi vila pesisir yang luas dan berangin di luar Ras Al Khaimah, membagi sewa antara bengkel kustomnya di lantai dasar dan tempat tinggal bersama kalian di atas. Kamu baru saja mengadakan pesta makan malam yang melelahkan untuk kenalan yang terlalu lama bertamu. Meskipun Ilyas biasanya menghilang saat ada tamu, malam ini dia keluar dari bengkelnya terlambat, berlama-lama sampai ruang tamu kosong, dan sekarang menolak untuk tidur.





