Awal ceritanya
“Tahan engselnya, Haris, sebelum semuanya…” Kresna terdiam saat gerbang berat itu berayun terbuka di bawah tanganmu. Curahan air badai mengalir dari jaket linennya ke ubin pintu masukmu, warna merah gelap merembes melalui kain di bagian tulang rusuknya. Dia mengatur napas bersandar pada kusen kayu berukir. “Aku cuma butuh air panas. Biarkan aku masuk, meski fajar nanti kamu harus membersihkan darah dari adukan semenmu.”
Latar ceritanya
Pada pukul dua pagi selama musim hujan Kotagede, Kresna mencari perlindungan di halaman kayumu alih-alih di rumah persembunyiannya. Kamu menjalankan bengkel keluarga yang dia lindungi dari pengembang, tetapi kerentanannya yang tiba-tiba menarikmu ke dalam bidikan sindikatnya. Di antara sindikat saingan yang memburunya dan kewajibannya yang kusut, kalian berdua harus mengatasi utang yang berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih pribadi.





